Warna-Warni TATO Dalam Hidupku





Kali ini aku akan membagikan cerita tentang warna-warni Ta-To dalam hidupku. Bagaimana ia menjadi saksi bisu atas apa-apa saja yang dihadiahkan Tuhan untukku hingga saat ini. Sebentar dulu, bukan perihal seni body painting yang akan kubagikan untukmu. Melainkan tentang bagaimana (TATO) Jakarta dan Purwokerto mewarnai kehidupanku. Dua kota yang tak bisa dipisahkan untuk diceritakan, meskipun keduanya terpisahkan oleh jarak sejauh 375 km, 5 jam perjalanan dengan kereta api, dan 7-10 jam perjalanan dengan bus atau mobil pribadi. Jangan tanyakan berapa waktu tempuh dengan pesawat ya.... karena Purwokerto tak memiliki bandar udara. Sekalipun sedari awal aku disini, aku dan beberapa temanku selalu membayangkan kita dapat menaiki helikopter dan landing di lapangan pacuan kuda depan pusat administrasi UNSOED. Tepat persis di belakang patung Jenderal Soedirman.

Tak ingin sombong ataupun riya’, tapi kenyataannya aku adalah seorang cucu Jenderal. Mbah Dirman namanya. Seorang Pejuang yang berasal dari tanah ngapak. Mbahku, Panglima besar Tentara Nasional Indonesia yang pertama ini lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916 dan berpulang setelah lebih dari empat tahun Indonesia merdeka. Kalau kamu ingin mengenal wajah Si Mbah, lihat saja foto di bawah ini.





                                                                                                                                      
                        Gambar diatas merupakan gambar yang diambil sewaktu aku mengunjungi Monumen sekaligus Museum Panglima Besar Jenderal Soedirman. Letaknya ada di sebelah timur Sungai Logawa (Sebuah sungai yang dijadikan sebagai nama sebuah kereta api juga untuk jurusan Purwokerto hingga Jember). Tentunya museum tersebut terletak masih di sekitaran Purwokerto. Tepatnya di Kecamatan Karang Lewas, Kabupaten Banyumas. Sebagai salah seorang cucu dari Mbah Dirman, rasanya kurang afdhol jika aku belum pernah mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan tentang dirinya di bangunan tua tersebut. Kisah tentang Museum ini akan kuhadirkan lebih lengkap pada postingan selanjutnya ya. 


            Kembali ke topik utama...


            Sudah beberapa tahun terakhir aku hidup di tanah rantau ini sebagai seorang mahasiswa. Sedikit malu menyebutkan berapa lama itu. Tapi aku mencoba untuk mencintai diri sendiri, jadi tak masalah jika sekarang kutelanjangi diriku dengan cerita tentang pilihan hidup yang kuambil. Maaf jika sekarang kamu seolah sedang mendengarkanku mencurahkan isi hati. Ok, baiklah kita mulai. Aku sudah menghabiskan waktu 6 tahun untuk mengenal kota ini. Jika diibaratkan seperti mengenal mendoan, maka aku nyaris mengenalnya begitu akrab. Perkenalan itu dimulai dari mengenal tempe sebagai bahan dasar membuat mendoan, lalu tepung, bumbu, daun bawang, serta teman-temannya yang disajikan di gerobak angkringan. Ada tahu kemul atau tahu berontak, lumpia, sate usus, sate ampela, sate ati, sate puyuh, sate kerang, sate kepala ayam, ceker, otak-otak, jahe susu, nasi bakar, nasi kucing dengan berbagai varian rasa, dan kawan-kawannya yang lain. Seperti itulah aku mengenal kota ini, dari mulai isi dan daerah sekitarnya.


            Purwokerto adalah kampung halamanku yang kedua. Bagaimanapun juga kota ini sudah membiarkan aku berjalan, berlarian, tertawa hingga menangis selama 6 tahun terakhir. Ya disini, di Purwokerto. Kota yang memberikan lebih dari segudang kenangan yang bisa dijadikan buah tangan untuk anak cucu nanti. Purwokerto adalah kota kecil sejuta cerita. Mulai dari menjadi mahasiswa baru yang plonga-plongo gak ngerti apa-apa tentang urusan perkuliahan, terlebih lagi soal bahasanya. Di kota yang merupakan ibukota Kabupaten Banyumas ini jelas menggunakan bahasa jawa karena letaknya masih di tanah Jawa dan termasuk dalam Provinsi Jawa Tengah. Hanya saja bahasa Jawa di daerah ini berbeda dari yang umumnya didengar orang, karena bahasa yang digunakan untuk keseharian adalah bahasa Ngapak


            Secara umum orang mengenal bahasa ngapak digunakan oleh orang Tegal, tapi ternyata tidak hanya Tegal yang menggunakan bahasa ngapak alias bahasa penginyongan ini. Bahasa ini juga menjadi ciri khas dari BARLINGMASCAKEB. Apa itu Barlingmascakeb? Barlingmascakeb adalah singkatan dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Justru bahasa yang digunakan Tegal cenderung berbeda engan bahasa ngapak yang digunakan di lima kabupaten tersebut. 


            Kesan pertama? Kesan pertamaku mendengar bahasa keseharian yang digunakan disini jelas aku merasa bahasanya sangat lucu dan aneh, karena memang aku baru pertama kali seumur hidup mendengar langsung orang bicara nyong-ko nyong-ko (aku-kamu). Tapi yang itu agak kasar ya, ibarat kata bahsanya orang di pasar atau terminal. Inyong-Rika (aku-kamu) itu yang alusnya. 


            Jadi teringat orang yang pertama kali mengenalkanku bahasa ini sekaligus menjerumuskanku ke dalam ocehan ibu-ibu waktu itu. Inisialnya adalah Ismiarti Permana (ups). Ya, itu bukan inisial melainkan nama jelasnya. Bocah ayu yang kalau bicara keayuannya berkurang 20% adalah Ismi alias Si Med, asli dari kota dawet ayu yang juga dilintasi Sungai Serayu, Banjarnegara. 


Ismi: Geh ya, tak waraih koe ngeneh.
            Nih ya, aku ajarin kamu sini.

Aku: Iya, Is. Gimana-gimana ajarin dong biar aku ngerti kalo ngomong sama orang.

Ismi: Nek koe ming bakul rames, aja isin-isin. Nek arep tuku ngomong bae “Bu, nyong kencot kiye arep mbadog. Ibu e masak apa?” Ben akrab. Ngko tuli Ibune kepenakan.
            Kalau kamu ke warung makan, jangan malu-malu. Kalau mau beli ngomong aja “Bu, saya lapar mau makan. Ibunya masak apa?” Biar akrab. Nanti ibunya jadi enakan.


            Nurut? Ya, jelaslah ya. Secara yang ngajarin itu orang sini. Meskipun Banjarngara berbeda kabupaten dengan Banyumas, jarak yang harus ditempuh hanya 1,5 – 2,5 jam maksimal. 95% tanpa macet itu sudah dapat dipastikan. Jadi, banyak sekali persamaan bahasa diantara keduanya. Andaipun ada yang berbeda ya paling sedikit saja. Alhasil, yang aku dapat dari dia adalah ZONK belaka. Ketika aku pergi ke bakul rames, sejenis warteg yang banyak di Jakarta (meskipun khas Tegal) atau nasi campur didaerah wetan, saat aku mengaplikasikan ilmu pertama yang kudapat dari Ismi, yang aku dapat adalah omelan dari ibu penjual nasi rames tersebut. Aku diomelin, dibilang gak sopan dan blablablablaaaa..... maksud hati ingin masuk menjadi bagian dari orang daerah sini atas dasar prinsip “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, eh yang ada malah dapet ocehan ibu-ibu pakai bahasa yang waktu itu aku masih agak bingung. Intinya itu ibu-ibu ngomelin aku. Mau makan enak malah jadi enek, nelen aja susah. Dalam hati aku rasanya pengen nyiwit alias nyubit pipi bakpaonya.


            Masih atas dasar prinsip yang tadi aku sebutkan, aku sangat ingin mengerti dan bisa berbicara aktif menggunakan bahasa sini. Meskipun seorang sepupu iparku yang berasal dari Magelang mewanti-wanti atau memperingatkan aku untuk jangan memakai bahasa tersebut karena menurutnya bahasa ngapak itu kasar, kurang sopan, dan lain-lain, peduli apa aku yang sudah terlanjur memegang prinsip tersebut. Mengenal kebudayaan baru termasuk bahasanya adalah salah satu hal yang menarik untukku. Semenarik saat aku mengenal orang baru, teman baru. Aku giat belajar bahasa tersebut dari teman-temanku yang memang asli dari Purwokerto dan sekitarnya. Kalau kata orang sini sih, ngapak gurih, ora ngapak ora kepenak. Dan itu ternyata memang benar, kalau kita ngomong ngapak seperti kita itu lebih berenergi gitu pas ngomong. Ada kolkolahnya, penekanan suara gitu. 


Iya mbok? (iya kan?)

Aja kaya kue. (jangan kayak gitu)

Sih lah, sing bener bae koe. (dih, yang bener aja kamu)


Dan berbagai kata serta kalimat lain yang menurutku seru untuk diucapkan, karena ngapak juga salah satu kebudayaan yang kita miliki sebagai orang Indonesia. Jadi, jangan pernah mengunderestimate budaya dari daerah manapun. Toh pada dasarnya kita sama-sama orang Indonesia. Perbedaan yang kita miliki adalah kekayaan kita yang bernilai di mata dunia. Dan yang terpenting adalah saling menghargai kekayaan yang kita punya ini (re: perbedaan). Heterogen itu indah dan menarik, karena kalau homogen ibarat aku lelaki menyukai lelaki juga dong? Loh


            Aku bersyukur bisa merantau ke kota kecil ini. Tak ada macet yang bikin emosi dan rumah tangga kurang harmonis (loh). Iya bener lho, macet itu bisa menjadi salah satu pemicu kurang harmonisnya sebuah rumah tangga kalau seseorang tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Nih ya, bayangin aja kalau orang kena macet di jalan karena lampu merah, eh pas udah hijau tetap susah jalan karena banyak angkot pada ngetem, banyak orang gak sabaran berebutan mau maju duluan dan lain sebagainya. Padahal biasanya posisi pulang kerja, badan dan otak udah capek seharian dipake di kerjaan. Karena efek dari orang yang pada gak sabaran maunya dulu-duluan sampai kadang ngelanggar lampu lalu lintas, bahkan nyenggol pengguna jalanan lain. Akhirnya karena emosi tak tertahankan disaat perut mulai kelaparan, timbullah keributan yang berdampak pada keharmonisan rumah tangga karena emosi yang dijadikan buah tangan untuk keluarga. Duh, kenapa jadi panjang belibet gini ya. Maaf-maaf. Ya, intinya aku jatuh cinta dengan kota kecil ini karena kota yang nyaman dan cenderung aman. Karena gak macet, dan kota ini hampir setipe dengan Jogja, maka aku bisa berjalan kaki santai dengan asiknya, ataupun bersepada santai, bahkan untuk mengelilingi kota ini satu jam saja itu sudah lebih dari cukup. 


            Dari Jalan Prof. HR. Boenyamin dimana letak kampus pusat beserta jalan-jalan kecilnya yang menawarkan banyak sekali kos-kosan serta tempat makan dan minuman, hingga ke GOR Satria yang berderet pula pusat kuliner di sana (ku rasa beberapa tahun ke depan jalan tersebut akan berubah menyerupai Jalan Braga di Bandung. Belum lagi pusat kota dimana terdapat alun-alun Purwokerto yang membuat aku melihat banyak kebahagiaan di sana, ketika orang tua membawa anak-anaknya untuk memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau tersebut. Kini telah berdiri mall pertama di Purwokerto, selain Swalayan Moro yang kini pun mulai ikut berubah. Rita Supermall namanya. Mall tersebut baru resmi di buka akhir Desember lalu. Meski saat pembukaan mall masih sangat kurang dari kata cukup pantas untuk resmi dibuka karena belum selesainya pembangunan mall tersebut, hal ini tak mengurangi minat masyarakat untuk mengunjunginya. Baru kali pertamanya aku merasakan mall dibuka dalam keadaan belum jadi seperti itu, plus AC yang saat itu belum bisa dinikmati. Ah, kenapa jadi komentar soal mall. Maaf-maaf yaa. Yuk, jalan-jalan lagi keliling Purwokerto.


            Apa sih yang terkenal dari kota ngapak ini? Banyak loh yang bisa kamu kenal dari kota ngapak nan satria ini. 

Mau tahu tentang kuliner khasnya?

1.      Gak ada yang gak tau kan si famous yang satu ini? Cluenya, ibarat artikel dalam bahasa Jerman, dia bersifat feminim alias klemar-klemer. Digoreng dadakan dan dimakan selagi hangat adalah puncak kenikmatan makanan tersebut. Bukan tahu bulat yang digoreng dadakan loh ya. Ada daun bawangnya, yang kalau kegigit tambah nikmat. Sambal kecap jadi partner terbaiknya. Dage adalah adek tirinya Masih belum tau juga? Dia nih ada di banyak tempat, dari mulai bakul rames, bakul nasi kuning-nasi uduk, tukang gorengan, angkringan, hingga restoran. Yep, mendoan masih jadi yang pertama. 

2.      Keripik Tempe. Kalau aku sih paling suka beli keripik tempe di pusat oleh-oleh Eco 21 yang ada di Sawangan, dari alun-alun masih lurus terus ke arah selatan (insyaaAllah gak sesat), bangjo atau lampu merah kedua kamu tinggal belok kiri dan sampai deh. Di situ berjejer beberapa toko pusat oleh-oleh.

3.      Nopia, mirip bakpia pathok tapi dia teksturnya lebih kerasdan isinya adonan yang dicampur gula jawa seperti roti tapi agak keras. 

4.      Gethuk Goreng. Kalau ini makanan manis lagi. Getuk yang asalnya dari singkong, dicampur gula jawa dan digoreng. Rasanya enak bagi yang suka makanan manis, tapi lebih enak lagi bila dinikmati selagi hangat atau baru matang. Yang paling terkenal ada di Sokaraja, Gethuk Goreng Asli H. Tohirin.

5.      Soto Sokaraja. Soto yang warnanya gak bening dan gak butek karena santan. Lalu? Ya, soto ini tanpa santan tapi pakai bumbu kacang. Isinya ada lontong/ ketupat di potong-potong, kecambah, daun bawang, ayam atau daging sapi, kerupuk dan bumbu kacang. Aneh? Nggak kok, enak. Tadinya aku juga mikir aneh sih, tapi ternyata rasanya.... mantep puolll. Penasaran gak kenapa namanya Soto Sokaraja? Katanya makanan khas Purwokerto, tapi kok Sokaraja? Sebenarnya Sokaraja sudah tidak masuk kota Purwokerto, tapi letaknya berdekatan dengan kota Purwokerto dan masih masuk ke dalam Karisidenan Banyumas. Jadi, gak apa-apa ya kalau masuk list makanan khas Purwokerto.


Tempat wisata yang ada di Purwokerto?

            Kalau bicara tempat wisata ini memang yang paling menarik ya. Terlebih saat ini traveling sudah menjadi kebutuhan yang urgent bagi jiwa-jiwa yang lelah (apa sih de). Yep, Purwokerto punya banyak banget tempat traveling yang bisa memanjakan mata dan merefresh otak kamu yang penat akan berbagai rutinitas harian yang gak ada habisnya kalau diceritakan. Dari mulai Lokawisata Baturaden yang terletak di kaki Mbah Slamet (Gunung Slamet), Gunung Slamet sendiri yang masih aktif dan bisa dijadikan tempat asik untuk menikmati alam dan kehidupan, Curug Gede, Curug Jenggala, Curug Jomblang, Curug Tebela, Curug Telu, Curug Ceheng, dan masih banyak lagi curug lainnya. Curug loh ya yang banyak, bukan mantan. Telaga sunyi, Baturaden adventure, Tempat sapi-sapi ala Swiss, Kebun Raya Baturaden, Small World, Bukit Trangulasih, Bukit Cendana, Taman Andang Pangrenan, Taman Balai Kemambang, dan masih banyak lahi tempat wisata asik lainnya. Ditunggu di postingan selanjutnya untuk lebih detailnya.

Tempat Asik Buat Nongki-Nongki?

            Tempat asik buat nongkrong di Purwokerto? Tenang, banyak kok. dari mulai cafe-cafe, tempat ngupi, tempat nyusu, warung tenda, angkringan emperan toko, bahkan sampai terminal dan stasiun pun asik buat nongki. 

           
            Setidaknya itu semua membuat aku kerasan dan nyaman untuk tinggal di sini. Di kota kecil yang tadinya tanpa mall. Kalau di Jakarta seringnya main ke mall, kalau di Purwokerto seringnya main di alam bebas. Hijau-hijau yang menyegarkan mata pokoknya. Mau ke tempat wisata gak perlu buang waktu banyak untuk bercinta dengan traffic jam. Jarak juga relatif dekat. Hal yang bikin aku makin betah disini adalah karena biaya hidupnya yang murah. Itu adalah suatu kemerdekaan tersendiri untuk para anak rantau yang merantau dari Jabodetabek ke sini. 


            Cerita ini belum selesai, kawan. karena TATO tak akan sempurna tanpa Kota Jakarta yang melahirkan dan membesarkanku. Ditunggu kelanjutannya ya. Danke :)


Curug Gomblang - Purwokerto 



 

           
           

Komentar

  1. Wih.. Ternyata cucunya Pak Dirman 😱. Btw..aku pernah ke Purwokerto sekali, nengok kakak yg kuliah di Unsoed. Lalu diajak beli mendoan di tempat yg rame bgt dikerubutin pembeli. Setelah mencicipi, kesan pertama: "apaan nih Tempe yg tepungnya mentah kok banyak yg suka" 😂. Tapi eh..kok lama2 enaak yaa 😍
    -Tatat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anak cucu Pak Dirman 😂. Wah satu keturunan dong aku & kakak kak Tatat wkwk. Ahaha iya kak, first time juga aku gitu mikirnya kok. Tapi ternyata lama-lama nagih 😂 dimana kak? Di angkringan Om Anto depan Papa Ron's Pizza bukan?
      Thankkiss udah komen kak 😘

      Hapus
    2. Wah..lupa tempatnya dimana. Yg pasti deket kampus sih *kampusnya yg mana pun gatau. Taun 2005 an soalnya..haha..udh lama bgt

      -Tatat

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer