Budaya Konsumtif - Konsumsi Krisna Hari Ini

Konsumtif. Bukan hanya kata sifat yang belakangan mengganggu isi dompetku. Meski tak terelakkan bahwa itupun terjadi. Sudah menjadi kebiasaan di jaman sekarang, khususnya wanita membiarkan matanya berjalan-jalan diantara banyaknya produk-produk menarik yang dijajakan oleh para produsen. Terlebih online shop kian semarak bertebaran dimana-mana. Kalau ia bisa bersuara, jelas ramai sudah ponsel anda penuh teriakannya. Ah, wanita masih kesulitan memblocking hasrat tersebut. Rasanya konsumtif sudah membudaya.

Bukan rasanya lagi, itu memang nyatanya bahwa onsumtif telah membudaya. Tapi, ada baiknya ketika kita membudayakan sesuatu sifat itu yang dapat memberikan kebermanfaatan untuk kita. Misalnya, membudayakan mata mengkonsumsi kata demi kata yang kaya akan makna lebih daripada biasanya, membudayakan otak mengkonsumsi ilmu pengetahuan daripada biasanya, serta konsumsi berbagai hal lain yang bersifat positif.

Ini sedang kucoba jalani. Maafkan wahai diri, kau selalu menjadi kelinci percobaan dalam setiap hal baru yang ingin kuterapkan. Maafkan juga wahai diri, ke-tubil-an ku (re: tua-tua labil)  ini seringkali menyulitkanmu dalam banyak hal dan sikon. Belakangan aku mencoba mengkonsumsi sesuatu yang kuharap kecanduan menghampiriku, mengajakku bermain-main di dalamnya terus menerus. Aku mulai mengkonsumsi barisan kata hasil olah pikir dari beberapa orang yang kuanggap dapat menginspirasiku sehingga budaya konsumtifku ini kelak bisa berkembang menjadi produktif. Ditengah-tengah tulisan ini, aku ingin meminta maaf jika apa yang kau baca ini membingungkan. Jujur, aku pun tak mengerti tulisan macam apa yang sedang kuproduksi.

Otak terhimpit diantara berjejal-jejal kabar kesuksesan orang yang menyerbu dalam waktu yang menyulitkan untuk oksigen mengalir di dalamnya. Sempit, berat, engap. Aku butuh udara, tapi bukan udara panas berdebu penuh cemooh atau penghakiman. Sedikit saja ruang. Biarkan oksigen masuk dan menenangkan otakku. Jika pemain voli, aku ingin sekali melihat space bercahaya yang berada di seberang net agar bisa ku spike bola ke arah space bercahaya itu. Sayangnya aku bukan seorang spiker dan bukan pula pemain voli.

Sujud. Sujud. Sujud. Katanya itu titik terendah. Ah, lagi-lagi waktuku habis untuk mengkonsumsi tas, sepatu, baju, yaa barang-barang semacam itu dibandingkan untuk mengkonsumsi ilmu agama. Wahai diri, cobalah jadikan budaya konsumtifmu itu punya nilai lebih baik dibandingkan masa lalu. Jangan sampai temui dirimu di masa lalu. Berubah meski kau bukan power ranger. Berubah meski kau bukan spider man. Berubah meski kau bukan mutan. Berubah untuk masa depan nan gemilang demi nusa dan bangsa, kalau kata mars SMA ku.

Sabar-sabar, semua butuh proses. Ah, untung saja Si Proses menyelamatkanku. Dia nyaris selalu menjadi tameng terhebatku untuk berbagai pertanyaan dan pernyataan yang menyudutkan seperti pertanyaan dan pernyataan seorang jaksa terhadap terdakwanya. Terima kasih Mas Proses. Tiba-tiba terbesit sebuah harapan bahwa kau adalah seorang mas-mas. Oh, sungguh otakku mulai lelah. Maafkan.

Sebentar, aku ingin bercerita. Selain susu kedelai, 2 batang coklat silverqueen almond dengan ukuran yang berbeda, indomie goreng, nasi telor orak-arik, es teh manis, biskuit roma sari gandum selai kacang, dan jeli rasa kelapa muda, aku mengkonsumi barisan huruf yang rapi tertata dengan spasi yang beraturan dari seorang penulis Jepang bernama Sakae Tsuboi. Nijushi no Hitomi judulnya. Dalam Bahasa Indonesia berarti Dua Belas Pasang Mata. Berarti ia berjumlah 12 orang tentunya. Bukan 6 orang ya. Jangan seperti Dek Tiara yang ketika membaca novel yang hendak ku beli di Gramed ini, ia berkata "oh berarti 6 orang ya kak." (Entah dia salah minum obat apa kemarin sore).

Dilihat dari covernya, manis. Warna shabby-shabby gimana gitu. Ada sebanjar orang yang berturut-turutan memegang tali ke belakang. Ku terka ada 12 orang jumlahnya. Tapi, setelah kuhitung ternyata ada 13 orang. Sepertinya wanita dewasa yang memimpin barisan anak-anak itu tak masuk dalam hitungan. Ya, 12 orang itu adalah anak-anak. Anak Sekolah Dasar lebih tepatnya. Kubaca bagian belakang buku, lalu kudapati cuplikan kisah tentang guru dan murid-muridnya yang nanti akan bercerita saat kutelanjangi dengan mata tiap katanya. Ada satu hal yang menarik perhatianku. Sepele. Hanya tentang nama. Oishi, nama guru yang disebutkan di cover belakang novel ini mengingatkanku akan cemilan favoritku. Oishi Sponge rasa coklat. Cemilan yang sering ku konsumsi ketika berkunjung ke Indomart atau Alfamart selain untuk mendapat sapaan oleh pegawai tokonya. Aku kira Oishi itu artinya enak, karena cemilan itu rasanya enak. Ternyata diberi tahu dalam novel bahwa Oishi artinya batu besar. Ah, sungguh aku kecewa ternyata tebakanku salah.

Lupakan lupakan tentang isi novel itu, karena aku baru mengkonsumsinya 1/10 halamannya. Sungguh hari ini aku sangat sibuk. Disibukan dengan kegiatan mengkonsumsi curhatan seorang sahabat yang sedang berkunjung. Ia berkunjung sebulan sekali ke kostanku. Itu pun hanya hitungan jam saja. Jadi, setiap kami bersua diwaktu yang singkat aku harus mengkonsumsi cerita hidupnya selama sebulan semenjak kita berpisah hingga sebelum kami bersua. Begitu pun sebaliknya dengan dia yang wajib mengkonsumi cerita hidupku yang tak ada dia di dalamnya selama waktu kami tak bersama. Setelah dia pulang ke Kota Dawet Ayu - Sungai Milo alias Banjarnegara, tadi aku mengkonsumsi beberapa wawasan dan pengetahuan tentang agama hasil diskusi bersama Dek Tiara dan Mas Rizky. Setelah itu barulah sempat ku konsumsi karya dari Sakae Tsuboi ini sebelum Rani mengetuk-ngetuk pintu kamar tanda dia mulai kesepian dan lelah berkebun, Harvest moon maksudku. Karena ini hari libur jadi dia dari pagi asik berkebun bersama Si Kumon ( nama laptop miliknya). Akhirnya kututup lembaran yang baru terbuka sedikit itu untuk berganti mengkonsumsi logat Cipulir ala Rani yang biasa kami ( aku, Defian dan Arfian) sebut dengan Cipulir Style, dengan slogan "Tanah Tanah Guak". Tarrraaaaaa... Dan diakhiri dengan berbukalah dengan yang halal, meski tak manis, karena yang manis belum tentu halal. Nasi telor orak-arik dan es teh manis yang tidak manis. Oh ya, dibumbui sedikit dengan mengkonsumsi tatapan mata orang banyak ( kuhitung cepat ada 10 pasang mata) yang memandangiku ketika aku nyaris terjatuh karena duduk di kursi yang rapuh. Sekian, mohon maaf dan terima kasih.

Komentar

Postingan Populer