MENGINGATNYA




Kota kecilku,
Hari ini tinta jingga tumpah di langitmu
Bila tak jua berbeda,
Seperti fauna langka rasaku diburu
Hendak dipanah oleh pemanah jitu
Mati langkahku seketika

Berlari,
Hanya bisa di putaran yang sama
Tiarap,
Hanya bisa di tanah yang sama
Mengumpat,
Hanya bisa di persembunyian terbuka
Lagi, ku mati langkah

Jika hendak aku terpanah, 
Panah dululah lututku
Agar dapat ku terjatuh
Tersujud, tersadar dan mengingatNya
Jangan dulu hatiku
Jika ia masih angkuh.
(Geistkade)





        Yaa Rabb, Tuhan semesta alam...

        Betapa hasratku untuk bisa mencintaiMu seutuhnya teramat besar. Tapi bagaikan ombak di lautan yang ingin menjumpai pantai, ia selalu pasang dan surut. Seperti itulah keimananku terhadapMu. Ada kerinduan untuk selalu menetap di pantaiMu, tetapi selalu ada jua angin yang membuat kerinduan itu surut dan berpaling. Ketika rasa itu kembali hadir, seketika itu jua aku kembali berlari menuju pantaiMu. Dengan wajah memerah malu aku berusaha MenjumpaiMu, memintaMu untuk memaafkanku yang sempat berpaling dariMu dan meminta beraneka ragam permintaan. Entah dengan ataupun tanpa rasa malu, sesungguhnya itu masih kupertanyakan pada diriku. Seringkali kau jawab langsung permintaanku, rasa senang menyelimutiku hingga sering kemudian selimut itu melalaikanku lagi. Membuatku berpaling lagi dariMu. Tuhan, andai bisa aku menetap di pantaiMu dan menjadikannya rumah tetap untukku, bukanlah rumah sewaan seperti kost-kostan......
Ironisnya tekad ini tak lebih tebal dari piring melamin, tapi semoga kekuatannya seperti piring melamin, jangan sampai ia mudah hilang seperti piring beling yang mudah agama, dan tak bisa di pakai lagi. 


        Ada yang pernah berkata padaku, "Bersujudlah (sholatlah) meski sebesar apapun kesalahanmu (dosamu), apapun yang telah kau perbuat, apapun yang terjadi dalam hidupmu."  Kini aku menemukan alasan untuk setuju yang dapat dimengerti oleh hati dan pikiranku. Karena Sholat menjauhkan kita dari perbuatan buruk. Dengan menjaga sholat kita, kita lebih terjaga dari perbuatan buruk yang dibisikan syaithon kepada kita. Dengan sholat aku malu untuk berbuat tidak baik, dengan sholat aku lebih merasa dekat dengan Dia dan merasa dia selalu menjagaku. Pernah aku tidak sholat full dalam beberapa hari dengan disengaja dan sadar diri, aku hanya ingin tahu apa yang membedakan diriku ketika aku sholat dan tidak sholat. Ternyata kudapati kekosongan diri, kelelahan yang teramat meskipun tanpa aku melakukan aktivitas sama sekali. Aku hanya berdiam diri di rumah, dan tidak melakukan aktivitas berat, kerjaku hanya bersantai-santai seharian. Tapi justru aku merasa sangat lelah dan emosiku tak menentu selama beberapa hari itu. Kemudian, hari selanjutnya aku menunaikan kewajiban sholatku. Yang kudapati ketika setelah sholat adalah ketenangan yang teramat menenangkan. Sekalipun ada beban pikiran tentang permasalahan hidup, aku sungguh merasa tenang. Tangisku pecah telah begitu sombong melalaikan perintahNya, tangisku pecah karena rasa penasaranku yang merupakan kebodohanku karena jelas dengan aku mencari tahu, aku sama saja tak mempercayai seutuhnya. Permintaan maafku padaNya mungkin seperti pasukan perang yang menyerbu. Aku lupa bahwa rukun iman itu tidak serta merta aku beriman jika telah berkata aku mengimaninya, tapi itupun harus kutanamkan dalam diri, di bagian terdalam hatiku meski aku tak pernah tahu dimana batas dasar hatiku, serta kubuktikan dengan perbuatanku. Jangan melakukan laranganNya dan jangan meninggalkan perintahNya. Dan aku lupa, jika rukun islam yang kedua adalah Sholat. Sholat adalah yang utama setelah syahadat sudah didengar langit dan seluruh anggota tubuhku. 


        Aku memang hanya seorang yang minim ilmu, termasuk ilmu agama, tapi ketika aku berusaha menjadi baik, berperilaku baik, maka Allah datangkan orang-orang baik di sekelilingku. Rasa syukur semoga tiada henti karena berada di kelilingi orang yang baik, semoga tak hanya jadi teman di dunia, tetapi juga teman di akhirat kelak. Dengan bersyukur ternyata semuanya cukup bagiku. Dengan mengingatMu, ternyata dunia tak seberapa bagiku. Semoga kesadaranku tetap seperti saat aku menulis ini. Semoga Kau menjagaku untuk tetap ada di jalan yang lurus, jalan yang Kau ridhoi. Amiin allahuma amiin.
       

       Ah ya, "Jangan dulu hatiku, jika ia masih angkuh" adalah jejeran kata dimana do'aku terletak. Semoga jangan dulu hatiku terpanah dan tertawan oleh cinta dunia, cinta yang tak haram (suci), dan cinta yang berlebih kepada seorang ciptaanMu. Jika sudah terlanjur ia terpanah, maka tolong lah jaga rasa ini agar hatiku tetap milikMu, jangan biarkan aku mencintainya melebihi cintaku padaMu. 

Komentar

Postingan Populer