Antara Rindu Dengan Tuannya

Rindu selalu tahu kemana arah untuk kembali pada tuannya
Jika tidak sekarang, mungkin esok
Jika tidak esok, mungkin lusa
Jika bukan lusa jua, mungkin lain hari
Tenang saja, Tuhan selalu memiliki waktu yang tepat untuk mempertemukan rindu dengan tuannya

Menghitung hari yang berganti menjadi minggu, lalu bulan
Andai wajahmu sensitif lebih dari pada perasaan wanita, pasti ramai sudah wajah dengan jerawat
Semusim sudah terlewati, dan rindu pun masih belum bertemu pada tuannya
Jangan pesimis, tenang saja dan percayakan pada yang maha mempertemukan segalanya
Termasuk antara rindu dengan tuannya

Ternyata butuh ikhtiar lebih untuk dapat mempertemukan kedua belah pihak
Antara rindu dengan tuannya
Ini hampir sesulit mempertemukan antara kedua belah pihak keluarga
Keluargaku dan keluargamu
Ah, sebentar. Jangan dulu beralih, tentang rindu dan tuannya pun belum rampung

Sebesar ini kutahan gelombang rindu yang membawa pula pasir-pasir harapan untuk bertemu dengan tuannya
Ketika lirik lagu ke Jakarta aku kan kembali terus terputar di otak
Lalu heartbeat berdegup semakin kencang ketika Stasiun Cirebon Prujakan telah terlewati
Hingga ku temui pintu keluar Stasiun Jatinegara
Dan sosokmu selangkah lebih maju daripada deretan bajaj ibukota
Akhirnya, rindu pun bertemu dengan tuannya
Meski kesabaran tak melulu berbuah manis, karena kini ia berbuah hening
Tuhan mempertemuka rindu dengan tuannya
Antara aku, kau dan hening menjadi akhir cerita kerinduan semusim ini
Ayah, rindu berpulang pada tuannya di Jakarta





Komentar

  1. Menapikan rindu, mengurung diri dalam tubuh manusia. ahhh

    ardentusstory.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, bagaimana lagi jika rindu sudah merajai diri. Thankyou sudah visit, Bang. 😳

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer