Ketika Aku Menjadi Pengemis Maaf



Ketika aku menjadi pengemis maaf karena pembunuhan  yang tak sengaja kulakukan. 

Hampir semua kita memahami bahwa maaf dan terima kasih adalah hal kecil yang berdampak besar. Seringkali untuk mengatakannya amatlah berat. Gengsi mengambil alih niat yang terkurung sempit di sela hati. Ya, itu memang benar.  Seringkali mengucapkan dua kata tersebut sangatlah sulit. Tapi, tidak untukku kali ini.

Siang hariku yang tak seperti biasanya. Aku menghabiskan waktu dalam tawa lega karena one step closer telah kulewati. Anggap saja itu sebuah ujian. Banyak tawa setelah mulut menyerocos nyaris tiada henti hingga dianggap sebagai penyiar radio oleh ibu cantik yang menjadi penguji. Acara setelah ujian adalah makan-makan. Bukan dikhususkan untuk syukuran, tapi memang tradisi yang nyaris wajib dilakukan. Membagi-bagikan voucher makan sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran para hadirin.




Kupilih tempat makan dengan fasilitas beberapa kolam renang dengan permainan yang banyak. Memang pilihan tepat untuk masuk ke dalam air yang dingin setelah otak panas dan hawaterboom meretas nafas baru.

Sebentar, akan kuceritakan tentang latar tempatnya terlebih dulu. Sebenarnya cukup bingung melihat restoran yang bermetamorfosis seperti kilat ketika pertama datang. Restoran ini adalah tempat makan favorit untuk tempat membuat voucher makan karena harganya yang sangat pengertian dengan dompet. Tadinya tempat ini hanya memiliki lahan yang tak cukup untuk menampung lima puluhan kendaraan di parkiran, tapi kini ia berubah seolah seperti waterboom yang difasilitasi restoran.

Bersama teman-teman, para hadirin di acara ujian aku melahap makanan karena perut lapar tak tertahankan. Obrolan pun terjadi sebelum piring-piring  penjinak cacing di perut datang. Obrolan yang menghangatkan suasana melayang ngalor-ngidul-ngetan-ngulon ngumbah watu, tapi tidak masio mung nyenggal-nyenggol ati lego di antara kami. Jumlah kami lebih dari 15 orang saat itu.

Setelah cacing di perut jinak, godaan untuk merasakan segarnya berenang di kolam renang semakin menggebu. Satu per satu dari kami berganti kostum, dan aku urutan paling terakhir karena masih ada obrolan yang harus diselesaikan via layang suara.

10 menit berlalu . . .

Aku bergegas mengganti kostumku ke kamar ganti. Tak ada penitipan barang disana, hanya terlihat sebuah kursi menyendiri tanpa penghuni di tepi kolam. Aku memang sengaja tak ingin terlalu jauh berenang. Hanya butuh air segar membasahi seluruh tubuh, khususnya isi kepalaku yang habis dipaksa bekerja lebih beberapa hari terakhir. Alhasil, tas kecil warna hitam milikku kubiarkan menemani kursi tersebut.

Kucoba memasukan kepala ke dalam air kolam renang yang katanya adalah air dari Gunung Slamet. Sedetik...dua detik...tiga detik...Ah, segar sekali rasanya. Berbagai aturan RTRW dalam artian yang sebenarnya pun mulai terlepas dari ikatan otakku. Kebijakan pemerintah tentang tata ruang dalam bentuk Undang-Undang, Peraturan Daerah, pelanggaran zonasi, ketidakpatuhan government, belum terpenuhinya GOS (Green Open Spaces) di kota, perindustrian yang bertambah banyak, masalah lingkungan terkait pemanasan suhu yang bertambah tinggi berdasarkan data dari NOAA terbaru, ya semua hal itu dan berbagai anak buahnya mulai lepas dari otakku sesaat setelah kubiarkan kepalaku berada di bawah permukaan air kolam. Hingga, sedikit suara sayup terdengar berkolaborasi dengan feeling membuatku mengangkat kepala dan memalingkan kepalaku ke arah belakang, arah dimana kubiarkan kursi yang kesepian itu berbincang hangat dengan tas hitamku.

Hening.....
Linglung.....
Dia temanku, sebut saja namanya Sumber. Seorang teman lelaki tinggi dengan lemak yang rata menyebar di seluruh tubuhnya, plus rambut ikal sedikit gondrong.

Apa yang dilakukannya dengan tas hitamku yang berharga itu?

Sumber menghentikan obrolan hangat antara kursi kesepian dan tas hitamku. Dia mengajak tasku berlari paksa.

Waktu serasa berhenti, membiarkan aku berdialog dengan diri.
"Sumber itu temanku, apa yang dia lakukan terhadap tasku, tas yang berisi uang Rp. 850.000,- uangku yang hanya itu. Uang yang akan kugunakan untuk membayar biaya pendidikanku yang tidak boleh telat. Tak ada lagi uang simpanan karena tabungan sudah habis digerogoti tikus. Tak ada lagi stock ketebalan muka untuk meminta uang pada orang tua. Ah, habis sudah aku jika itu hilang.

Aku berlari melintasi banyak orang yang tak sedikitpun memasang wajah peduli bahwa aku sedang mengejar Sumber yang mencuri tas hitam berhargaku.
Meneriaki Sumber yang berlari begitu gesit, walaupun dengan tubuh berlemaknya. Satu-dua kolam renang terlewati. Sepuluh-belasan orang pun terlewati. Hingga pada kolam selanjutnya dimana kudapati seorang asing dalam kolam renang berkedalaman 3 meter tersebut. Happ... Ditangkapnya tasku yang dilempar Sumber ke arahnya. Ia membantu Sumber, tentu ia bekerja sama dengan Sumber.

Maling... Maling... Maling... Teriakku kemudian. Sumber langsung berlari ke arahku, ia yang tahu aku tak pandai berenang ingin membungkam mulutku yang mulai berani teriak karena aku benar-benar menyadari bahwa ia benar mencuri milikku, dengan cara menjatuhkanku ke kolam renang. Reno, temanku menyadari apa yang hendak dilakukan Sumber.

Maling... Maling... Maling...

Reno berteriak selanjutnya, lalu banyak temanku sadar dan langsung menangkap Sumber dan temannya itu. Mereka memukuli Sumber dan temannya. Di tepian dan dalam kolam renang kulihat baku hantam terjadi antara beberapa orang temanku dengan Sumber dan temannya.

Aku duduk lemas, menenangkan diri yang tadi shock karena Sumber mengoyak-oyak tubuhku yang ingin dijatuhkannya ke kolam renang. Kulihat bagaimana mereka mengeroyok Sumber dan temannya. Sedikit darah mulai terlihat dari jarak beberapa meter, mengalir di wajah Sumber. Air kolam pun sedikit berubah warna di sekitar tempat perkelahian antara teman-temanku dengan temannya Sumber.

Panik. Ya, aku mulai panik melihat darah yang bertambah alirannya. Teman-temanku lepas kontrol. Jiwa bertarung dalam diri lelaki mereka keluar dengan buasnya. Mungkin tak sadar bahwa itu Sumber, teman sekelas kami. Yang mereka tahu mungkin ia adalah maling. Orang yang kuteriaki sebagai maling.

Terjatuh. Tubuh Sumber akhirnya terjatuh, ia tak tahan menahan pukulan dari teman-teman. Begitu pula temannya Sumber yang ada di kolam renang. Mereka membawanya ke atas menepi. Kulihat wajah yang lebam tak berbentuk, mata yang mulai tak sadarkan diri. Dan setelah ku dekati, ku pegang urat nadinya dan nafas di hidungnya kini telah berhenti. Sumber kehilangan nyawa, pun dengan temannya. Sumber meninggal dunia karena pukulan demi pukulan yang menghantam tubuhnya dari beberapa orang sekaligus. Ia mati karena teriakanku. Teman yang meneriakinya maling hanya karena uang Rp. 850.000.

Ketua Jurusan memanggil kami. Kami terancam tak bisa menyelesaikan sekolah. Ia berkata-kata di depan Sumber dan temannya yang sudah menjadi jenazah. Aku diam terpaku tanpa berani metatap apa-apa selain jemariku yang terus bergetar. Rasa takut karena putus sekolah? Rasa takut melihat mayat teman terbujur di depanku? Rasa takut masuk penjara? Bukan. Ini adalah ketakutan karena menyadari aku adalah seorang pembunuh. Seorang yang membunuh temannya hanya karena tak ingin kehilangan uang Rp. 850.000 miliknya.


  •  Mungkin aku memang tak menyentuh sedikit pun tubuh Sumber ataupun temannya itu. Tapi aku telah membuat teman-temanku kalap dan membunuhnya tanpa sadar. Hari dimana kejadian ini berlangsung adalah hari diana aku menjadi pengemis maaf. Meminta maaf pada Sumber dan temannya yang meregang nyawa karena teriakanku. Padahal jelas mereka tak dapat menjawab permintaan maafku itu. Meminta maaf pada teman-temanku yang akhirnya menjadi seorang pembunuh karena teriakanku. Dan meminta maaf pada Tuhan bahwa ternyata aku lebih takut kehilangan uang Rp. 850.000 dibandingkan kehilangan temanku. Terus menerus aku mengemis maaf tanpa henti, hingga adzan subuh membangunkanku dari mimpi yang melelahkan ini. Terima kasih, Tuhan bahwa menjadi pengemis maaf hanyalah bunga tidur yang entah bersumber dari mana. Yang pasti, Sumber permintaan maafku kali ini bersumber dari Sumber, temanku. Ku maafkan kelelahanku yang membuat mimpi jadi bercampur aduk tak jelas arahnya. Kini aku telah tersadar dari mimpi, tak perlu melakukan pembunuhan walau tak sengaja, baru kuminta maaf. Karena maaf selalu bisa meringankan nafas dan langkah. Jadilah pengemis maaf untuk berbagai hal yang perlu untuk dimaafkan. 




Komentar

Postingan Populer